BERPIKIR, BERSIKAP, BERTINDAK TERBAIK BAGI NEGARA DAN BANGSA

Komandan Pusdikzi

Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho




Diposting tanggal: 14 November 2011
( JANGAN MEMIMPIN KALAU TIDAK TAHU SEJARAH ) (JENDERAL TNI KEHORMATAN G.P.H. DJATIKUSUMO)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Sejarah - Dibaca: 3725 kali


THE BOY GENERAL... inilah sebutan media asing kepada jenderal TNI kehormatan G.P.H.Djatikusumo. Orang pertama yang menjabat pucuk pimpinan TNI AD, berpawakan kecil dengan bentuk wajahnya baby face yang lembut dalam bertutur bahasa, namun tegas dalam bersikap dan bertindak.G.P.H. Djatikusumo lahir disurakartan pada 1 juli  1917 putra kedua dari lima bersaudara dari pasangan sinuwun Paku Buwono X (PB X) dengan ibu R.A.kironorukasi. Sejak kecil diasuh oleh kedua  orang  tuanya dalam lingkungan keraton surakarta. Menempuh pendidikan umum mulai  dari europesches lagereschool (ELS) di solo (1924-1931) melanjutkan ke  hogere burger   school  (HBS) di bandung (1931-1936) kemudian melanjutkan ke technische hage school(THS) di delft, (1936-1939), baru menginjak tingkat III pecah perang dunia II, akhirnya pindah ke THS bandung sekarang ITB (1939-1941) namun belum sempat meraih  gelar keserjanaan karena merambahnya perang dunia ke II ke indonesia, sehingga menuntut yang bersangkutan terjun ke dunia militer. Beliau mengakhiri masa lajangnya dengan menyunting seorang gadis raden ayu suharsi widyanti, putri bangsawan keraton mangkunegara solo pada 1 juni 1947, dikaruniai tiga orang putri.

Anak Raja menjadi Tentara Pada masa itu memang aneh jika ada dari kalangan bangsawan atau pangeran putra raja yang berminat untuk menjadi prajurit militer. Biasanya hanya dari kalangan masyarakat biasa saja yang  tertarik untuk masuk dinas militer. Namun fenomena itu tidak berlaku untuk seorang putra bangsawan keraton surakarta G.P.H.Djatikusumo G.P.H. Djatikusumo mengawali dunia keprajuritan sejak masa kolonial belanda dengan memasuki milisi corps opleiding reserve officieren( CORO )  yaitu  sekolah  perwira cadangan dibandung yang dibentuk Belanda untuk menghadapi perang melawan Jepang. setelah jepang menang atas belanda, Jepang memanggil pemuda indonesia untuk mengikuti pendidikan militer sesuai UU  Osama  Sirei No.44 tahun 1943 yang disebut PETA di Bogor, dimana salah satu siswanya G.P.H.Djatikusumo( Angkatan I-1943-1944 ). Selesai mengikuti pendidikan PETA, Jabatan yang  dipegang olehnya adlah Danki I Yon I PETA Surakarta ( Maret 1944- Agustus 1945 ). Beliau sempat mengikuti kursus kendo disurabaya, kursus perwira staf di Jakarta (1950) dan   kursus atase militer di Jakarta (1951). Pada permulaan pembentukan BKR, G.P.H.Djatikusumo menjabat sebagai komandan BKR di Solo dengan pangkat Mayor. Selanjutnya BKR berubah menjadi TKR beliaum menjabat sebagai Danyon I TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bertempat  tinggal  di Benteng Vesternburgh Surakarta. Kemudian beliau memimpin Divisi IV dan membentuk 3 Resimen, Masing-masing memiliki 4 Batalyon yang wilayahnya meliputi daerah pekalongan, Semarang dan Pati (November 1945-Juni 1946). Selanjutnya menjabat sebagai panglima Divisi V / Ronggolawe Jawa Timur, meliputi  Pati, Madiun dan Bojonegoro ( Juni 1946-Pebruari 1948 ). Di tahun 1948 G.P.H.Djatikusumo diberi kepercayaan menjabat sebagai KSAD ( yang pertama ) dan merangkap sebagai Gubernur AKMIL dengan pangkat Kolonel (1948-1949). Pada Agustus 1950 - Maret 1952 dipercaya menjabat sebagai kepala Biro perancang Operasi Militer Kementrian Pertahanan di Jakarta dan Kepala Biro Pendidikan Pusat Kementrian Pertahanan di Jakarta kemudian pada bulan April 1952-1955 menjabat komandan   SSKAD ( sekarang seskoad ) di Bandung. Dan   terhitung   mulai bulan April 1955-Agustus 1958 sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat di Jakarta dengan pangkat Brigadir Jenderal. Ini berarti bahwa jabatan beliau menurun dari KSAD menjadi kepala Biro, dan SSKAD, DIRZIAD. Walaupun kemudian beliau tidak pernah mengeluh. Pengalamanya semakin lengkap, dengan  dipercaya menjabat di Bidang Pemerintahan G.P.H. Djatikusumo pada tahun 1958 menjadi Konsul Jenderal RI di Singapura, tahun 1959 menjadi Menteri Perhubungan Darat, Postel dan pariwasata dengan pangkat Mayor Jenderal.Pada tahun 1963 beliau diangkat menjadi Dubes RI untuk diMalaysia. Tahun 1965 menjadi Dubes RI di Maroko. Tahun 1967 menjadi Dubes RI di Perancis,dan   tahun 1959 Pati dapat SUAD. Tahun 1973 memasuki masa purna tugas dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI dan dianugerahi pangkat Jenderal TNI   kehormatan TMT 01-11-1997. Puncaknya Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo adalah dikukuhkan/diabadikan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor 073/TK/ tahun 2002, tanggal 6 November 2002. 

Jalan Berliku, Banyak liku-liku perjalanan hidup kemiliteran yang dialami G.P.H. Djatikusumo, antara lain : Pada Oktober 1945 ketika pasukan Jepang menyerang sektor Semarang Selatan, Mayor G.P.H.Djatikusumo sedang perjalan ke Solo untuk mengambil meriam. Akan tetapi sesampainya di Solo beliau mendapat  Telegram   dari oerip Sumohardjo yang memerintahkan   agar   segera   ke Jakarta   untuk membantu tugas oerip diMarkas Komando Jakarta. Pada   saat   di Cikampek mendapat kabar bahwa Markas di Jakarta telah pindah di Bandung, kemudian beliau memutuskan untuk kembali  ke Solo   dengan   tujuan agar   berada ditengah-tengah anak buahnya. Namun setelah tiba diSolo jabatan   beliau sudah digantikan oleh Pangeran Purbonegoro. Pada November 1945-juni 1946 beliau menjabat Panglima Divisi IV TKR bermarkas diSalatiga dengan pangkat Jenderal Mayor, selanjutnya pada Juni 1946-pebruari 1948 menjabat panglima Divisi V Ronggolawe TNI bermarkas di Mantingan Blora kemudian pindah ke Cepu dengan pangkat Kolonel, akibat kebijaksanaan RERA (Reorganisasi dan Resiolisasi), jabatan yang beliau emban sama, tetapi pangkatnya turun dari Jenderal Mayor ke Kolonel. Terhitung Pebruari 1948 beliau menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dalam Kementrian bermarkas di Jogjakarta, pada November 1948 merangkap sebagai Gubernur Akmil dan pada tahun 1949 jabatan Kasad diserahterimakan kepada Kolonel A.H Nasution. Pada April 1952-Maret 1955 beliau menerima   tugas jabatan Komandan SSKAD di Bandung sekarang dikenal Seskoad dari Letkol inf A.J Mokoginta. Kemudian terhitung  mulai april 1955 Agustus 1958 sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat.

Makna hidup seorang prajurit Djatikusumo. Salah satu fenomena yang menggelisahkan di kalangan saat ini adalah muncul kecenderungan melemahnya loyalitas terhadap keputusan-keputusan Pimpinan dan Komandan misalnya ungkapan tidak puas  atas keputusan pimpinannya, bergesernya orientasi dari melaksanakan tugas menjadi mencari posisi sesuai selera, kecenderungan lebih banyak menuntut hak dari pada memenuhi kewajiban. Hasil dari semua  itu   adalah hilangnya kerelaan dan lebih banyak menerima/meminta.Sebagai prajurit tentu  tidak menghendaki kecenderungan ini terus berlanjut. Dalam konteks ke depan, ada baiknya menengok kembali pengalaman-pengalaman seperti yang itampakkan oleh G.P.H. Djatikusumo. Bagaimana liku - liku perjalanan hidup kemiliteran yang dialami G.P.H. Djatikusumo sebagai seorang Bangsawan dengan segala kehormatannya rela ditinggalkan menjadi prajurit sejati. Dalam sejarah tercatat bagaimana beliau diturunkan pangkatnya menjadi Jenderal Mayor menjadi Kolonel padahal saat itu beliau  menjabat Kasad orang pertama di Angkatan Darat. Belum lagi beliau harus bersedia tunduk dan taat kepada pimpinan yang dahulu mantan anak buahnya. Bahkan dengan tulus ikhlas menerima sebagai jabatan di instansi yang lebih rendah di lingkungan Angkatan Darat, seperti menjadi Komandan SSKAD (Seskoad-sekarang), Direktur Zeni dan masih banyak lagi. Banyak nilai-nilai yang dapat dipetik dari liku-liku perjalanan karier G.P.H. Djatikusumo, antara lain :

  1. Sebagai prajurit beliau tidak hanya loyal namun lebih dari itu  adalah seorang yang rendah hati, dan berjiwa besar kepada kepentingan bangsanya. Berbicara loyalitas dan kerendahan hati G.P.H.Djatikusumo. Jenderal besar A.H mengungkapkan Berkali-kali pindah bahkan turun tingkat jabatan, namun tidak pernah protes. Bahkan G.P.H. Djatikusumo mengatakan : Yang penting bukan jabatannya tetapi yang penting adalah tugasnya Hal ini memberi gambaran kepada kita bahwa beliau selalu loyal akan perintah dan tidak memilih-milih tugas atau jabatan.
  2. Sebagai sosok seorang prajurit yang sepi ing pamrih rame ing gawe. Sosok pekerja keras dan penuh pengorbanan serta tidak pernah mengharapkan imbalan jasa. Bahkan G.P.H. Djatikusumo pada amanat perpisahan saat serah terima Dirziad,menyatakan : Usaha untuk mengabdi pada negara dan rakyat indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan  dan kedaulatan, dan dalam mengejar cita-citanya,suatu negara yang aman, adil dan makmur,meminta pemerasan keringat setiap hari ,bahkan di iringi cucuran air mata dan pengorbanan jiwa....
  3. Sosok prajurit yang yakin akan kebenaran tugas yang telah diberikan oleh pimpinan kepadanya, tidak ada ambisi pribadi dalam dirinya. Dalam melaksanakan tugas selalu didasarkan pada semangat pengabdian yangdiwujudkan dalam sikap dan prilaku yang dilandasi keikhlasan berkorban, berjuang dan berbhakti yang tidak mengenal menyerah, tahan menderita serta senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dari pada kepentingan pribadinya.Hal ini dilakukanya bukanya tampil beda atau ikut ramai dengan kondisi waktu itu tetapi lahir dari suatu prinsip yang luhur demi tetap tegaknya NKRI.
  4. Sosok prajurit yang yakin dan percaya  sepenuhnya  terhadap apa yang  diputuskan  oleh pimpinan/komandanya karena pimpinan adalah orang yang diamanatkan tuhan melalui pemerintah untuk melaksanakan suatu tugas. Kepatuhan terhadap pimpinan itu diyakini benar bahwa apa yang telah diputuskan oleh pimpinan/komandan adalah hal terbaik karena sudah melalui suatu proses yang panjang dan matang. Dalam hal ini tepatlah   apa yang dikatakan oleh G.P.H.Djatikusumo bahwa salah satu sumber kejayaan Angkatan Bersenjata RI adlah mutu pemimpin dan kepemimpinannya.

 

 Masih adakah Djatikusuma-Djatikusuma di Angkatan Darat. Ditengah upaya bersama untuk  membentuk dan    merajut   kembali semangat juang akibat bergesernya  pemahaman    nilai-nilai   perjuangan, maka  sudah waktunya untuk Meneladani sosok  seorang Djatikusumo.Hal ini menjadi penting karena bukanlah para prajurit yang pernah bersumpah .......masih ingatkah akan sumpah kita kepada Tuhan YME. Demi allah saya    bersumpah/ berjanji :

bahwa saya akan setia kepada  Negara  Kesatuan  Rupublik  Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945:bahwa saya akan tunduk kepada  hukum   dan   memegang   teguh disiplin keprajuritan; bahwa saya akan taat kepada atasan  dengan  tidak membantah perintah atau putusan ; bahwa saya akan taat   kepada   atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan;bahwa saya akan menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada   tentara   dan Negara Rupublik Indonesia; bahwa saya  akan  memegang   segala   rahasia tentara sekeras-sekerasnya. Sumpah   merupakan   satu  tekad   seseorang dihadapan Tuhan YME bahwa ia akan berfikir, beramal, dan berkarya sesuai dan tidak menyimpang dari isi   sumpah yang diucapkanya. Sumpah juga merupakan mekanisme kontrol diri yang menempel  terus selama masalah ( tanggung jawab, tugas, jabatan, fungsi,  peran maupun posisi ) yang diterima sebagai amanah masih dilaksanakan . Maka agar  para Prajurit tidak termakan sumpah, sudah selayaknya belajar dari sosok seorang G.P.H. Djatikusumo .Menjadi keyakinan bersama bahwa  jabatan    bukanlah fasilitas pribadi maupun hadiah; jabatan adalah satu tanggung jawab  dan amanah yang harus dipertanggung jawabkan didunia dan di akhirat jadi tidak dikejar atau dicari apalagi meminta. Jabatan adalah fasilitas pengabdian dan berkarya untuk kemaslahatan masyarakat melalui TNI Angkatan Darat. Janganlah terlintas dalam benak untuk memperoleh sesuatu yang melanggar sumpah, gunakan kata hati yang sangat kuat untuk memegang teguh makna kata-kata dalam sumpahnya. Bila melanggar sumpah berarti menghianati Tuhan YME. Kalau tuhanpun dikhianati, apalagi Bangsa dan Negara maupun TNI Angkatan  Darat. Panglima Besar Jenderal Sudirman berpesan Jangan sekali-kali diantara tentara kita ada yang menyalah janji, menjadi penghianat nusa, bangsa dan agama, harus kamu sekalian senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tentu memakan korban, tetapi kamu sekalian telah bersumpah ikhlas mati untuk membela temanmu yang telah gugur sebagai ratna, lagi pula untuk membela nusa dan bangsa dan agamamu,sumpah wajib kamu tepati.

Bagaimana dengan kita ! Mari belajar dari sosok G.P.H.Djatikusumo. Jangan khianati perjuangan dan pengorbanan beliau yang begitu besar. Ingat .....Belajarlah dari sejarah, agar menjadi cerdik, pandai, bijaksana dan berilmu ... Sejarah adalah guru kehidupan,oleh karena itu belajarlah dari sejarah menjadi arif... Para Prajurit  dituntut untuk introspeksi dengan selalu bercermin pada peristiwa-peristiwa dimasa lampau dan selanjutnya dijadikan acuan dalam meningkatkan dan memantapkan kondisi mental kejuangan dirinya sehingga dapat mengantisipasi dn menghadapi berbagai permasalahan tugas dimasa yang akan datang dengan baik tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Prajurit Sapta Marga. Jangan sempat melakukan  sesuatu yang tidak terhormat, betapapun kecilnya hal itu akan sangat merendahkan martabat TNI dan diri sendiri. Prajurit sejati tidak menangis oleh kematian, tidak pernah berkeluh kesah karena pangkat dan jabatan, tidak pernah menyerah dalam perjuangan serta rela berkorban untuk Nusa dan Bangsa. Kebanggan sejati seorang Prajurit bukan terletak paada pangkatnya, jabatan, dan atau kekayaanya, melainkan bukti-bukti kesejatian keprajuritanya dan praktek-praktek keteguhan keperwiraanya. Prajurit yang baik haruslah mampu mengabaikan kepentingan yang lebih besar. Dibutuhkan ketaatan penuh dan kesetiaan total kepada komandannya dan kesiapan untuk berkorban, Ingat pesan G.P.H. Djatikusumo Kesetiaan bukan pilihan. Sepi ing pamrih rame ing gawe. (Bekerja keras penuh pengorbanan tidak mengharapkan imbalan jasa) .

Diterbitkan oleh :
DINAS SEJARAH ANGKATAN DARAT
Jl . Belitung No . 6 Bandung



BERITA TERKAIT
| Home |Profil |Pendidikan Pa |Pendidikan Ba |Pendidikan Ta | Gallery |Referensi |Artikel |Guest |

Dankodiklat TNI AD

Letjen TNI Andika Perkasa


BUKANLAH KESULITAN YANG MEMBUAT KITA TAKUT, TAPI KETAKUTAN YANG MEMBUAT KITA SULIT. JANGAN PERNAH MENCOBA UNTUK MENYERAH DAN JANGAN MENYERAH UNTUK MENCOBA. MAKA HARUS BERANI MENGHADAPI MASALAH

E-Mail

komandan@pusdikzi.com
wadan@pusdikzi.com
kadepmilum@pusdikzi.com
kadeptiknikzi@pusdikzi.com
kadepkonbang@pusdikzi.com
kadepalzi@pusdikzi.com
kadepnubika@pusdikzi.com
katimgumil@pusdikzi.com
dansatdikpa@pusdikzi.com
dansatdikba@pusdikzi.com
dansatdikta@pusdikzi.com
kasiposdik@pusdikzi.com
kasijianbangdik@pusdikzi.com
kasipamops@pusdikzi.com
kasimin@pusdikzi.com
dandenma@pusdikzi.com
pauralins@pusdikzi.com
dansatsis_diklapa@pusdikzi.com
dansatsis_sarcab@pusdikzi.com
distribusi_b@pusdikzi.com(grup)